“Kring… kring.. kring..” jam beker ku berbunyi sangat nyaring pada
pukul 06.30 yang sengaja ku setel untuk membangunkan ku dari tidur
panjangku. Aku sontak terbangun dan dengan langkah sempoyongan aku
berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah
Hari ini adalah hari pertama ku masuk sekolah sebagai seorang siswi
SMA. Aku cukup gugup. Oiya, selama tiga tahun kedepan aku akan
menghabiskan masa putih abu ku di SMA Negeri 1 Sukamulia. Sekolah ku
merupakan salah satu sekolah ternama di kota ku. Hanya anak-anak pilihan
yang bisa bersekolah di sekolah ku. Dan aku salah satu di antara
banyaknya anak-anak pilihan tersebut.
“Qoonnniii…” teriak Aini sambil berlari ke arah ku
Aini adalah teman segugus ku saat MOS. Dari sana kami mulai dekat dan menjadi teman akrab hingga saat ini.
“Aini lebay deh, baru sehari aja gak ketemu udah heboh. Kangen ya sama aku” ucapku sambil cengengesan
“Ih pede, sopo to yang kangen karo sampean?” jawabnya ketus.
Oiya, Aini adalah keturunan blasteran Jawa dan Sasak. Makanya kalau ngomong rada medok
“Iya deh iya, kita ke kelas aja yuk! Entar kita enggak kebagian bangku paling depan”
Kami pun berjalan menuju kelas. Kebetulan aku dan Aini satu kelas
yaitu di kelas X-IPA 3. Sampai di kelas aku dan Aini memilih bangku
paling depan dekat jendela yang berhadapan langsung dengan lapangan
sekolah. Hari ini memang hari pertama masuk sekolah, tapi murid-murid di
sekolah ku tetap belajar seperti biasa. Itulah yang membedakan sekolah
ku dengan sekolah-sekolah lain.
Jam pelajaran pertama dimulai. Pak Budi guru sejarah yang terkenal
rajin dan disiplin masuk ke kelas kami. Tanpa ada komando siswa dan
siswi yang tadinya sangat ribut langsung diam
“Selamat pagi anak-anak dan selamat datang di sekolah kita tercinta ini” kata beliau mengawali pelajaran
“Selamat pagi pak…” jawab kami serempak
“Kalian tentu sudah tau nama bapak siapa, jadi langsung saja kita mulai
pelajarannya. Silahkan buka buku kalian halaman 135” perintah beliau
Detik berganti menjadi menit, menit berganti menjadi jam dan bel
berbunyi yang menandakan jam istirahat dan jam pelajaran Pak Budi
berakhir. Setelah Pak Budi keluar kelas, datanglah beberapa orang kakak
kelas ke kelas kami.
“Selamat siang adik-adik. Maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Kami
dari senior ekskul seni lukis ingin merekrut anggota baru” ucap salah
seorang dari mereka
“Oke, untuk mempersingkat waktu, bagi kalian yang berminat silahkan
tulis nama kalian di kertas ini” ucap seorang pria yang berbadan kekar
sambil mengangkat kertas dan pulpen
“Wooy ngelamun terus, entar kesambet loh” kata Aini padaku
“Iya gue kesambet dia” jawabku sambil menunjuk pria berbadan kekar itu
“Ya udah pas kalau begitu. Kamu ikut aja ekskul seni lukis. Lagian kamu juga jago ngelukis. Aku daftarin yo?”
“Terserah kamu aja” jawab ku pada Aini sambil terus memandang pria itu.
“Jadi bagi yang sudah menuliskan namanya, nanti sore agar datang ke sekolah” ujar mereka dan pergi begitu saja dari kelas kami.
Sore hari nya aku dan Aini datang ke sekolah. Ternyata sudah banyak
siswa kelas X yang datang. Baik dari siswa IPA maupun IPS. Kami
dikumpulkan di sebuah ruangan khusus untuk ekskul seni lukis. Di
pertemuan pertama kami tidak langsung melukis tapi lebih tepatnya
mendengarkan ocehan para senior yang memperkenalkan dirinya padahal kami
tidak memintanya. Tapi, dari tadi aku tidak melihat sosok pria yang
tadi pagi membuatku terhipnotis karena senyum nya. Tiba-tiba dari balik
pintu terdengar suara orang tergopoh-gopoh
“Sorry.. sorry aku telat” ucap pria itu
“Ya udah deh langsung kenalin diri kamu ke junior kita” perintah kak Nadia
“Oke adik-adik, maaf sebelumnya karena saya telat. Nama saya Febryan
biasa di panggil Ryan. Saya duduk di kelas XII-IPS 4” ucapnya sembari
tersenyum.
Lagi-lagi ia tersenyum dan senyuman itu mampu membuat ku mematung dan
tak mampu berkedip. Aliran darah ku seaakan berhenti mengalir sementara
jantung ku terus berdetak semakin kencang. Apa aku menyukainya? Batinku
dalam hati
Hari berganti hari.
Tak terasa sudah dua bulan aku menjadi siswi SMA. Dan sudah dua bulan
juga aku mencari tau semua hal tentang dia. Tentunya secara diam-diam.
Dimulai dari tanya-tanya akun sosial media nya, nomor handphone nya,
bahakan pin BB nya. Tapi sayang, aku terlalu pengecut untuk sekedar
mengirim pesan singkat padanya. Aku hanya berani memperhatikan kelihaian
nya saat bermain sepak bola dari kejauhan juga memandang senyum nya
yang indah dari kejauhan. Meskipun aku tahu senyum itu bukan untuk ku.
Tapi itu sudah cukup membuat ke senang. Karena dengan tersenyum berarti
dia sedang dalam keadaan baik-baik saja.
Namun pada akhir nya, ku kumpulkan segenap keberanian ku untuk mengirim sebuah pesan singkat pada nya melalui BBM
Aku: “PING!”
Dia: “Y?”
Jawaban yang sangat singkat dan sanggup membuat rasa kecewa yang teramat
dalam dihatiku. Sejak saat itu aku tak pernah berani mencoba untuk
berkomunikasi dengan nya. Hingga pada suatu sore aku dan Aini datang
untuk mengikuti ujian melukis. Kak Ryan juga datang. Seperti ia terlihat
seperti biasanya. Biasa keren dan dengan senyum nya yang menawan
membuat nya tampak terlihat sangat manis.
Ujian melukis kali ini kami diminta menggambar seseorang yang membuat
kami bahagia. Sebenarnya aku membayangkan Kak Ryan tapi sangat tidak
mungkin aku melukis nya jadi kuputuskan untuk melukis wajah Ayah ku
saja.
Setelah selesai melukis aku mengumpulkan hasil lukisan ku pada Kak
Ryan. Ia tersenyum pada ku tapi aku tetap berusaha bersikap biasa saja
di hadapan nya.
“Lukisannya bagus dek, ini siapa?” tanya Kak Ryan
“Ayah aku kak” ucapku dan berlalu meninggalkan nya
Aku keluar ruangan sambil menarik tangan Aini dengan hati yang sangat berbunga-bunga.
“Kamu kenapa to? Keliatan nya seneng banget” tanya Aini kebingungan
“Kak Ryan.. Kak Ryan bilang lukisan aku bagus” jawabku berbunga-bunga
“Dasar lebay.. baru dipuji begitu saja sudah heboh begitu”
“Biarin aja, sewot mulu ih” ejek ku pada Aini
Di kejauhan tampak seorang wanita yang sepertinya aku sudah kenal.
Ya, wanita itu adalah Kak Kirana. Wanita terpopuler di sekolah ku. Dia
cantik dan baik hati. Ia sering memenangkan lomba-lomba modelling yang
diadakan oleh pemerintah di kota ku. Tapi kenapa dia bisa ada di sekolah
padahal sore ini tidak ada ekskul modelling
“Saaayaaang…” ucap wanita itu sambil melambaikan tangan ke arah ku.
Dan saat aku berbalik arah ternyata sudah ada Kak Ryan yang membalas
lambaian tangan itu sembari tersenyum. Aku shock! Aku yang melihat dan
mendengarkan semua itu tak sadar meneteskan air mata. Aku pun berlari
sekencang-kencang nya. Hatiku terasa sangat perih. Keadaan ini memaksa
ku harus sadar bahwa cerita cinta ini bukanlah sinetron yang awalnya
suka dan berakhir dengan pacaran. Ini cinta yang nyata. Biarlah cinta
tetap tersimpan dalam diam. Dan mulai sejak saat itu ku putuskan untuk
menyimpan rapat-rapat cinta untuk Kak Ryan dan mencoba bersikap seolah
kejadian yang kulihat hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan hilang saat
aku terbangun nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar